Bahasa Bonda, Bahasa Tertua di Gorontalo Yang Terancam Punah

0
1113

Indonesia memiliki bahasa daerah terbesar (741 bahasa) kedua di dunia setelah Papua Nugini (820). Tidak semua bahasa ini dituturkan oleh banyak orang, bahkan dalam satuan suku/budaya terkecil, bahasa ini terancam punah, seperti bahasa Bonedaa (Bonda) di Gorontalo, yang digunakan di sekitar daerah Suwawa dan daerah pantai selatan Bone Bolango, penuturnya kurang dari 100.000 orang. Padahal menurut ahli bahasa jika tidak didukung penutur sejumlah itu dipastikan bahasa tersebut akan punah.

 

“Adona, habari?” sapa Afifa Maliu, perempuan setengah baya di depan kantor desa Lompotoo, Suwawa Tengah, kalimat tersebut berarti wololo habari dalam bahasa Gorontalo, apa kabar?

“Piya-piya” jawab Trisno Apita rekannya, yang berarti piyo-piyohu, baik.

Percakapan yang menggunakan bahasa Bonda tersebut masih bisa disaksikan di desa-desa sekitar Suwawa, namun tidak sudah tidak banyak, terutama digunakan oleh generasi tua.

Bahasa Bonda biasa orang Suwawa menyebutnya, atau bahasa Bune jika yang menyebut orang Gorontalo, merupakan salah satu bahasa yang terancam punah. Bahasa ini hanya digunakan oleh sebagian masyarakat yang mendiami daerah Suwawa, Bone Bolango, itupun hanya sebagian saja yang mampu menuturkan dengan baik.

Selain bahasa Bonda, bahasa Atinggola juga terancam punah akibat semakin ditinggalkan penuturnya. Bukan tidak mungkin jika masyarakat dan pemerintah abai, kedua bahasa ini akan mengikuti bahasa Bolango, yang sudah lama punah, akibat ditinggalkan penuturnya. Daerah lain yang banyak menghadapi masalah serupa adalah Maluku Utara, Nusa Tenggara Barat dan Papua.

Beberapa desa di Suwawa terutama yang bagian timur, masyarakatnya masih dengan lugas menggunakan bahasa Bonda. Kebiasaan ini juga bercampur dengan bahasa Gorontalo dan juga bahasa Indonesia.

“Saya tinggal di Duano sudah 50 tahun, suami saya memang orang sini sehingga saya mampu memahami bahasa Bonda tapi tidak bisa berbicara lancar” kata Farida Adam (69), wanita beranak 11 asal pinggiran danau Limboto ini. Ia mengaku tidak membiasakan anaknya menggunakan bahasa Bonda.

Bahasa Bonda berkembang tidak lepas dari wilayah lingkungan masyarakatnya, sekitar hutan yang sekarang di berada di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Bonda dipercaya sebagai bahasa tertua di Gorontalo, hal ini didasarkan pada kesamaan asal usul masyarakat Suwawa yang disebut Tiyombu (nenek moyang) dalam U Duluwo Limo Lo Pohalaa, juga memiliki kedekatan dengan sejarah persebaran bangsa Witohiya dan Pidodotiya, yang menurunkan suku-suku di bagian utara pulau Sulawesi hingga di dataran Sulawesi Tengah.

”Kalau di Pinogu masyarakatnya masih murni menggunakan bahasa Bonda, kondisi keterisoliran ini justru yang menjaga kemurnian kekayaan budaya Gorontalo ini” kata Farida.

Sejarah Bonda juga berkaitan erat dengan budaya Bolaang Mongondow, bahkan keduanya pernah diperintah oleh raja kakak-beradik, Pulumoduyo berkuasa di Bolaang Mongondow dan Mooduto di Suwawa . Keduanya berperang hingga kematian Pulumoduyo di Pinogu (dari kata Pinogumbata, Pilohumbala, yang berarti perkelahian), sebuah daerah di perbatasan Gorontalo dan Sulawesu Utara saat ini, namun bukan kampong Pinogu sekarang ini.

“Sejarah Bonda bisa ditelusuri melalui makam raja-raja kerajaan Suwawa masih bisa dijumpai di dearah hulu sungai Bulawa, di kaki bukit Sinandaha, tempat bersandarnya kapal  zaman dulu, sekitar satu hari perjalanan dari desa Pinogu sekarang. Namun situs lain yang bisa ditemui adalah makam Raja Moluadu, Istrinya ratu Sendena, dan kedua anaknya, di hulu sungai Bone, sekitar satu jam perjalanan dari desa Pinogu” kata Dewi Biahimo, mahasiswa S2 di sebuah universitas di Australia yang juga penutur bahasa Bonda yang fasih.

Semakin menurunnya penutur bahasa Bonda merupakan gejala yang harus diwaspadai, bahasa ini merupakan salah satu keanekaragaman budaya Gorontalo yang bernilai tinggi.  Apalagi penelitian tentang bahasa ini belum banyak dilakukan.

Keengganan menggunakan dalam percakapan sehari-hari oleh satuan masyarakat terkecil, keluarga, bisa berdampak signifikan pada proses kepunahannya. Keluarga merupakan basis pengenalan bahasa Bonda yang efektif, melalui orang tua bahasa ini dikenalkan pada anak-anaknya melalui komunikasi sehari-hari.

Tanda-tanda ke arah itu sudah sangat terasa. Generasi muda, terutama anak-anak sudah tidak dibiasakan menggunakan bahasa Bonda dalam komunikasi setiap harinya.

Bukan tidak mungkin, bahasa Bonda akan bernasib sama dengan bahasa Ibu di desa Gamlamo dan Desa Gamici, Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara. Penutur bahasa Ibu tinggal delapan orang yang semuanya sudah berusia lanjut : lima orang di Desa Gamlamo (pada tahun 2007 berusia 46, 60, 75, 80, 96 tahun) dan tiga orang yang berusia di atas 70 tahun di Desa Gamici (penelitian Prof Dr Kisyani-Laksono, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya, 2009).

“Bahasa Bonda mulai jarang terdengar dan makin terdesak ke arah timur, karena sebagian besar penduduk Suwawa dan Bone Pantai memilih bercakap-cakap dalam bahasa Gorontalo dan Melayu Manado” kata Dewi Biahimo dari Adelaide, South Australia saat dihubungi tadi malam.

Kengganan menggunakan bahasa ini oleh anak muda salah satunya adalah tidak ingin dikatakan  sebagai sebagai orang kampungan, udik. Penekanan saat pengucapan bahasa Bonda yang berbeda dengan bahasa Gorontalo sering mengundang senyum orang lain yang tidak memahaminya, tidak jarang penuturnya merasa kecil di depan bahasa mainstream di daerah ini.

“Seringkali ank-anak yang menggunakan bahasa Bonda merasa minder dan malu karena saat dia berbicara dianggap seperti balagu” kata Welly, warga Kabila.

Menyurutnya anak muda menggunakan bahasa ini berakibat semakin sedikitnya penuturnya. Padahal fungsi bahasa daerah merupakan salah satu satu sarana pendidikan dini sebagai landasan pengembangan perbendaharaan bahasa Indonesia. Jika bahasa ini sudah punah, maka sumber perbendaraan bahasa Indonesia juga lenyap.

Semakin terpinggirnya kekayaan budaya ini juga ditengara semakin agresifnya media, terutama radio, yang lebih memberi ruang pada bahasa prokem, bahasa gaul, karena tidak ingin dianggap kampungan.

Di kalangan generasi tua pun, bahasa Bonda dipandang sebagai bahasa yang kurang menarik. Sehingga ketika ada orang yang misalnya bercakap-cakap dengan sangat intens dan keras, diistilahkan dengan madelo bune butoolo (seperti orang Bonda yang sedang berdebat).

Penutur muda bahasa Bonda juga seringkali menemukan bahwa bahasa mereka dipandang rendah karena bahasanya. Misalnya ketika dengan sopan dan dalam dialek sehari-hari, seseorang yang berasal dari bahasa Bonda mengucapkan, “somo pulangkami,” maknanya adalah bahwa orang tersebut hendak pamit pulang, namun karna penggunaan kata kami, seringkali ditanyakan “kami barapa?” (berapa orang yang hendak pulang).

Bahasa Bonda ini juga unik karena nada tertentu yang digunakan dalam penuturannya, seringkali disebut sebagai lagu. Seringkali karena ritme bahasa ini, si penutur bahasa bonda dipermalukan.

Sejak awal ditegaskan, bahwa bahasa Bonda tumbuh di wilayah yang sekarang meliputi seluruh area Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Desas-desus akan masuknya perusahaan tambang juga dikhawatirkan akan member tekanan yang lebih berat dari bahasa ini.

Sebenarnya masih ada generasi muda yang fasih bertutur bahasa Bonda, selain Dewi ada Yolanda Oktavia, staf pemerintah provinsi Gorontalo, Anisah Rahmah karyawati sebuah bank, dan lain-lain. Sekarang tinggal bagaimana membuat “ruang” bahasa Bonda untuk generasi mereka. Terpulang kepada masyarakat Bonda sendiri.

Lamat-lamat terdengar syair tua yang didendangkan perempuan renta, menyayat hati…

Toguwata u kawasa, Mogongge mayi inomata. Odatagiya buidiya. Tuwa no lipu no sadiya. Mokalaja no poopiya. Pinomula nowali niya. Bangudo, bangudo, tige, tigedomayi, popati, popati, duda, dudago, digonido, mayi….

(Rosyid A Azhar – Gorontalo)