Kisah Masa Lalu Dari Makam Raja Bulonggodu

0
503

Hamparan tanah tegalan yang sebagian ditutupi tanaman jagung menyimpan kebesaran masa lalu Gorontalo. Struktur kubur tua yang diperkirakan sudah ada sejak awal masa Islam Gorontalo. Inilah kubur Raja Bulonggodu, Raja Bintauna yang memerintah di wilayah pesisir utara pulau Sulawesi. Struktur kubur Raja Bulonggodu terletak di desa Dunggala Kecamatan Tapa Kabupaten Bone Bolango.

Bagi masyarakat Dunggala yang ada di sekitarnya, mereka lebih familiar dengan menyebut makam Atinggola, atau makam Raja Blongkod.

Meski diperkirakan pada masa pemerintahannya Islam sudah dikenal di Gorontalo namun posisi makam Bulonggodu berbeda dengan makam Islam. Kubur Bulonggodu membujur dari timur ke barat.

Romi Dayana Hidayat, Kepala Seksi Dokumentasi Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Utara Gorontalo dan Sulawesi Tengah yang berkedudukan di Gorontalo mencatat terdapat 4 struktur makam di area ini, dan 6 buah makam berada di luar pagar. Bukan hanya itu, ditemukan pula banyak fragmen gerabah dan keramik.

Makam yang pertama memiliki dinding yang mengelilingi bagian inti makam yang berada di tengah.  Dinding makam tersebut berbentuk persegi yang tiap sudutnya meruncing dan lebih tinggi dibandingkan bagian tengahnya yang tersusun dari bahan batu sungai, batu karang dan spesi namun belum diketahui bahan campurannya.

Dinding makam pertama ini berukuran 520 cm x 470 cm yang memiliki tinggi pada bagian sudutnya 179 cm dan tinggi bagian tengahnya 100 cm serta tebalnya 54 cm.

Pada bagian tengah dinding tersebut terdapat sebuah makam yang memiliki jarak 113 cm dari bagian utara dinding makam, 97 cm dari bagian timur dinding makam, 60 cm dari bagian barat makam, 165 cm dari bagian selatan dinding makam.

Makam tersebut berbentuk persegi panjang yang terdiri dari 2 undakan. Undakan pertama (bagian dasar) berukuran 220 cm x 134 cm dengan tinggi 15 cm. Undakan kedua  berukuran 220 cm x 100 cm dengan tinggi 54 cm. Pada bagian atasnya berbentuk setengah lingkaran dengan diameter 100 cm.

Struktur makam kedua berada dalam areal pagar. terletak pada sebelah barat makam pertama dengan jarak 90 cm.

Makam kedua ini berbentuk persegi panjang dan memiliki 3 undakan dan menggunakan bahan yang sama dengan makam pertama. Pada undakan pertama (dasar) berukuran 495 cm x 350 cm dengan tinggi 62 cm dan lebar pundak 80 cm. Undakan kedua berukuran 330 cm x 205 cm dengan tinggi 58 cm dan lebar pundak 40 cm. Undakan ketiga berukuran 280 cm x 150 cm dengan tinggi 40 cm. Pada bagian atasnya berbentuk segitiga dengan ukuran lebar 150 cm, tinggi 50 cm dan panjang sisi miringnya 95 cm.

Makam ketiga berada dalam areal pagar. Makam ini terletak di sebelah barat makam yang pertama dan kedua, dengan jarak 120 cm dari makam kedua. Keadaan makam ini sudah hancur dan menyisahkan puing-puing bahan pembentuknya berupa batu sungai dan batu karang, namun masih memperlihatkan bentuk strukturnya. Makam ini berukuran 250 cm x 330 cm.

Makam keempat adalah satu-satunya makam yang paling kecil dan memiliki 3 gunungan yang berdasarkan dari wawancara Juru Pelihara bahwa ketiga itu bukan asli atau bagian dari makam tersebut, namun telah dipindahkan dari makam yang berada diluar pagar. Makam ini masih memiliki struktur asli yang jelas dengan ukuran 147 cm x 84 cm dan tinggi 14 cm

Tidak ada orang tahu keberadaan makam-makam tersebut, demikian juga siapa sebenarnya Raja Bulonggodu, bahkan catatan sejarah belum bisa mengurainya. Para petani yang menggarap ladang hanya mengenal sebagai makam Raja Atinggola.

Sejumlah orang bahkan mengangap makam ini penuh mistik dan dibingkai dengan cerita-cerita seram. Ada yang mempercayai makam ini dijaga oleh siluman kucing hitam yang mengenakan kalung rantai emas besar hingga ke ekor. Konon, orang yang melihat kucing hitam ini akan terkena bencana.

Adalah Idris Ntoma, pemilik kitab tua yang rumahnya tidak jauh dari makam yang bisa berkisah silsilah Raja Bulonggodu. Kitab yang dipercaya berumur 200 tahun dan memiliki segel masa pemerintahan kolonial Belanda ini adalah warisan keluarga yang wariskan secara turun-temurun.

Idris Ntoma yang berumur 71 tahun ini menceritakan Raja Bulonggodu yang pernah memerintah di Bintauna adalah anak Sultan Eyato yang dibuang pemerintah Belanda ke Ceilon.

Lelaki yang terlihat enerjik ini kemudian membuka kitab tuanya dan mulai membaca tulisan Arab Pegon. Silsilah raja-raja diucapkan pelan-pelan, menyesuaikan antara huruf arab tanpa harakat dan bacaannya.

Adalah Putri Ngealo yang menikah dengan Mohulinggi dan menurunkan Raja Eyato. Raja Eyato yang saat memerintah Gorontalo punya nama harum memiliki 2 istri, istri pertama adalah Putri Hudiya (Iloudiya) yang beranak Hilipito dan Putri Linggota. Istri kedua adalah Putri Dimango yang menurunkan anak Bulonggodu dan Putri Ina.

Pada masanya, Bulonggodu yang cakap diberikan kekuasaan oleh ayahnya untuk memerintah wilayah Bintauna yang terletak di sebelah timur Gorontalo.

Bulonggodu terkenal dengan istrinya yang 6 orang, Para istri Bulonggodu itu adalah Putri Dumpa beranak Pangeran Wolangan, Putri Nggeyuhi beranak Putri Maha, Putri Bilungungo (Iya) beranak Putri Telebulota, Putri Wahimolongo beranak Jogugu Talue, Putri Bintalo beranak Putri Ntouto, PutriBulalonawa, PutriPani, Putri Kaita, Putri Kingo dan Putri Sultan, Putri Botutihe beranak Pangeran Ilo(Rosyid Azhar)wale.

Bulonggoodu yang memerintah Bintauna di bagian timur Gorontalo mengapa dimakamkan di daerah sekitar Bulango? Idris Ntoma menjawab, karena Raja Bulonggodu berasal dari Bulango.

Makam Raja Bulonggodu ini telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional dengan SK Menteri PM.10/PW.007/MKP/2010 dan telah dilakukan pemagaran dan pembuatan papan nama situs pada tahun 2012 oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo. Mengingat keempat makam yang berada dalam pagar sebagian badannya telah roboh bahkan ada yang mengalami kerusakan yang parah. (Rosyid Azhar)