Jumat 23 Januari 1942 Gorontalo Merdeka, Bung!

0
225

Saat sekumpulan massa dari Suwawa mendekati pusat Kota Gorontalo melalui jalan di Kabila, Jumat shubuh sebelum matahari menampakkan diri.  Tanpa hiruk pikuk mereka bergerak cepat menyusuri jalanan yang masih senyap.

Nani Wartabone muda yang dadanya dipenuhi nasionalisme menumpahkan hasratnya untuk segera mengakhiri penjajahan di Gorontalo. Ia telah mendengar kabar tentara eropa mulai kewalahan menahan gempuran bala tentara Negeri Matahari Terbit yang telah memodernisasi diri sejak selimut isolasi dibuka.

Dan tentara bertubuh kerdil dengan mata sipit ini didengarnya telah bergerak ke arah selatan setelah menaklukkan negeri-negeri tetangganya.

“Sebelum bangsa Jepang sampai di sini, kita harus segera merampas kekuasaan dari tangan orang Belanda dan anteknya. Jangan pernah berharap mereka akan menyerahkan kepada kita. Kita harus menyudahi penderitaan masyarakat sebelum tentara Jepang masuk ke Gorontalo” kata Nani Wartabone.

Jauh hari sebelumnya Nani Wartabone telah mendengar kabar kalau Belanda akan membumihanguskan Gorontalo secara perlahan setelah sekutu dikalahkan Jepang di peramg Asia Pasifik. Gudang kopra  dan minyak di Pabean dan Talumolo sudah terbakar

Sekelompok massa terus bergerak cepat tanpa suara, pembagian tugas sudah dilaksanakan jauh hari, siapa bertugas apa. Malam sebelumnya RM Kusno danupoyo yang jiwanya dipenuhi nasionalisme telah memberi pengarahan bersama Nani wartabone.

Perempatan kantor Pos Telepon dan Telegraf masih sunyi, di sinilah kelompok massa dari arah timur ini memuncak aliran adrenalinnya. Apa yang terjadi? Bagaimana menangkap orang Belanda? Bagaimana jika mereka melawan? Bagaimana jika mereka menembak? Sejuta pertanyaan mengendap rapat dalam dada.

Keraguan harus ditepis jauh-jauh, latihan langga yang selama ini menjadi bekal telah menguatkan mereka. Mereka adalah pemuda yang terpilih, tidak boleh ragu!

Mendekati pusat kota, sejumlah polisi pribumi bergabung dengan barisan ini. Langkah mereka makin mantap untuk segera meruntuhkan kekuasaan kolonial di bumi Gorontalo.

Inilah nasionalisme masyarakat Gorontalo!

Lalu pintu kantor polisi didobrak, Komandan Detasemen Veld Politie WC Romer ditawan tanpa perlawanan berarti, markas polisi lumpuh dan dikuasai pasukan Nani wartabone.

Peran Kusno Danupoyo, yang saat itu dikenal sebagai seorang nasionalis sejati berperan besar dalam melakukan komunikasi persuasive dengan pimpinan pemerintahan Belanda. Ia secara pribadi sudah kenal mereka. Dengan nada bicara pasti, ia meyakinkan para petinggi pemerintahan Belanda untuk menyerah tanpa melakukan perlawanan.

Kusno Danupoyo tidak sendirian dalam melakukan negosiasi, ia banyak melakukann koordinasi dan dibantu dengan Pendang Kalengkongan.

Kaum muda yang dibakar nasionalisme ini lalu bergerak ke rumah asisten residen dan menawannya, D’Anconna sang kontrolir tak luput demikian, dan pejabat Belanda lainnya seperti Hoofd-agen Kooper mengalami nasib yang sama. Semua bisa ditawan tanpa meletuskan satu peluru dari senjata. Penjara yang berada di depan-samping kanan rumah asisten residen penuh oleh 20 orang tawanan eropa dan anteknya.

Usai membereskan tawanan dalam penjara, massa bergerak ke kantor PTT, merobek benderah Belanda dan menyisakan warna merah putih untuk dikibarkan. Sorak gempita membahana di langit Gorontalo pagi itu.

Massa makin bertambah banyak, orang-orang dari berbagai penjuru berdatangan, meluapkan kegembiraan yang tiada tara.

Usai merah putih berkibar di kantor PTT, masyarakat bergerak ke lapangan depan rumah dinas asisten residen. Di sini sejarah kemerdekaan Gorontalo dideklarasikan.

“Pada hari ini tanggal 23 Januari 1942, kita Bangsa Indonesia yang berada di sini sudah merdeka, bebas, lepas dari penjajahan bangsa manapu juga. Bendera kita adalah merah putih, lagu kebangsaan kita adalah Indonesia Raya. Pemerintahan Belanda telah diambil alih oleh pemerintahan nasional” kata nani wartabone yang disambut sorak sorai masyarakat yang memenuhi lapangan.

Kegembiraan masyarakat diluapkan dalam takbir yang membahana, memecah kesunyian. Inilah merah putih kami!

Cerita patriotisme ini selalu terngiang, duet Kusno Danupoyo dan Nani Wartabone yang dibantu tokoh masyarakat lainnya adalah teladan  bagi generasi muda untuk bahu-membahu membangun negeri. Jiwa rela berkorban dan semangat persatuan adalah modal utama pembangunan.

Penulis : Rosyid A Azhar