“Anak Pedagang Kaki Lima Jadi Pengusaha Muda di Tanah Rantau”

0
1218

Rahmat Latief Bialangi

rlb2Rahmat Latief Bialangi (24), pemilik Biro Perjalanan Wisata yang bernama “Andrasta Tour & Travel” yang berkantor di Pinrang, Sulawesi Selatan lahir di sebuah Desa kecil di Limboto. Di usianya yang masih muda, Rahmat berhasil menjadi seorang pengusaha muda di rantau orang. Anak sulung dari empat bersaudara ini sejak kecil bercita-cita ingin jadi seorang pengusaha. Sayangnya cita-cita mulia itu jadi bahan olok-olok sebagian orang. Bukan tanpa alasan, hal ini dikarenakan Ia hanya anak dari seorang pedagang kami lima. Sementara ibunya merupakan pegawai di Kementerian Agama di Kabupaten Gorontalo. Olok-olokan itu tak membuatnya patah arang.
Setelah tamat dari jenjang Sekolah Menegah Atas di Pondok Pesantren Al Falah Limboto Barat, Rahmat memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di luar daerah. Keputusan itu ternyata tidak semudah yang dia bayangkan. Bapaknya menentang keras niatnya. Bukan tanpa alasan, penghasilan orangtuanya yang pas-pasan menjadi biang permasalahannya. Apalagi adik-adiknya yang masih duduk di bangku sekolah juga butuh biaya. Anak yang pernah Juara I lomba pidato Bahasa Inggris tingkat MA se Provinsi Gorontalo tahun 2005 itu tak lantas putus asa. Ia berusaha meyakinkan kedua orangtuanya dan akhirnya orangtuanya pun luluh. Ia pun melanjutkan pendidikan di Kota Makassar, tepatnya di Universitas Muslim Indonesia.
Hidup di rantau orang ternyata tidak mudah. Berbagai rintangan yang harus dihadapi. Berbekal cita-cita yang tertanam dalam hati, Rahmat tak pernah mengeluh meski harus jalan kaki setiap hari ke kampus. Di Kota Makassar, Ia bertemu dengan teman-teman yang berasal dari Gorontalo. Berbeda dengan Rahmat, sebagian mereka punya fasilitas lengkap, dari kost yang nyaman, ada tv, meja belajar, hingga falitas sepeda motor. Meski demikian Ia tidak minder, karena ia yakin semua akan indah pada waktunya selagi berusaha. Dengan penuh kesabaran Ia melewati getirnya hidup sendiri di tanah rantau. Cucuran keringat yang membasahi bajunya dikala panasnya matahari membuatnya tambah bersemangat.
Seiring berjalannya waktu, Rahmat berinisiatif mencari kerja sampingan dengan tujuan agar bisa meringankan beban orangtuanya. Lagi-lagi niatnya tersebut malah dijadikan bahan tertawaan teman-temannya.  Namun ia tak mengindahkan tertawaan itu. Baginya itu ibarat api yang membakar semangatnya. Alhasil pemuda kelahiran 28 Maret 1989 ini pun diterima sebagai Wartawan bagian pendidikan di Harian Fajar Makassar.
Sejak bergabung di Fajar, Ia mengaku banyak mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Diantaranya, bisa bergaul dengan para pejabat Kota Makassar bahkan pejabat Provinsi Sulsel. Tak hanya itu, dengan mudahnya ia bisa bertemu dan bercanda ria dengan para artis Indonesia. Pengalaman  yang  tidak pernah terbayang sebelumnya. Di tengah kesibukkannya, pemuda yang pernah mewakili Provinsi Sulsel di Jambore Penganugerahan Pemuda Berprestasi 2010 di Jawa Barat ini juga aktif dibeberapa organisasi kepemudaan diantaranya sebagai Pengurus KNPI Provinsi Sulsel periode 2010-2013 dan HIPMI Pinrang.  Satu hal yang paling ia syukuri adalah saat ia menyelesaikan studi sarjananya dalam kurun waktu tiga tahun empat bulan dengan predikat cumlaude.
Setelah meraih gelar sarjana, Rahmat menyudahi karirnya di dunia jurnalistik, dan beralih ke perbankan. Kebetulan Ia diterima di salah satu Bank dan di tempatkan di Pinrang, Sulawesi Selatan. Namun baru enam bulan berkiprah di perbankkan, Ia mulai bosan dengan rutinitas yang Ia jalani. Dari sinilah cikal-bakal Rahmat menjadi seorang pengusaha. Kebosanannya kerja di Bank, membawa Ia melihat peluang untuk berbisnis travelling. Ia pun nekat resign dari Bank dan membuka usaha Biro Perjalanan Wisata yang diberi nama “Andrasta Tour & Travel “. Sepak terjangnya di bisnis travelling masih tergolong muda. Namun demikian usaha yang Ia geluti mulai membuahkan hasil yang mengejutkan. Walaupun baru berdiri satu tahun, Ia berhasil meraup omset yang fantastis sebanyak 1,5 milyar rupiah. Predikat pengusaha muda yang melekat pada dirinya, tak lantas membuatnya sombong. Rahmat tetap menjadi pribadi yang rendah hati.*
Dikutip dari : http://smp3lembang.blogspot.com/2013/12/kisah-wirausaha-muda-sukses-tanpa-modal.html