fbpx

Orisinalitas Tumbilotohe yang Tenggelam di Lautan Lampu Listrik

Alikusu Tumbilo Tohe Gorontalo

Tumbilotohe adalah gabungan dua kata dalam bahasa Gorontalo yang terdiri dari tumbilo dan tohe.

Tumbilo artinya pasang dan tohe artinya lampu. Maka tumbilotohe dapat diartikan pasang lampu.

Tumbilotohe adalah sebuah tradisi yang hanya ada 3 kali dalam setahun, tepatnya di tiga malam terakhir bulan ramadhan sebelum pelaksanaan hari raya idul fitri.

Karena momentum ini sangat langka maka Masyarakat Gorontalo benar-benar sangat menunggu dan memeriahkan malam pasang lampu yang menjadi khas Gorontalo.

Sejarah Tumbilotohe Gorontalo

Cerita turun temurun awal mula lahirnya kebiasaan pasang lampu di Gorontalo memang beragam. Namun paling tidak ada 3 poin penting yang menjadi tujuan diadakannya tumbilotohe.

Tujuan Tradisi Tumbilotohe Gorontalo

1. Sebagai penerang menuju masjid

Sesuai dengan falsafah Gorontalo  “Adati hula-hulaa to saraa, saraa hula-hulaa to Kur’ani” yang artinya “adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah” maka ada hal yang cukup relevan di poin ini.

Beberapa dalil dalam Agama Islam menyebutkan bahwa malam lailatul qodar turun pada malam ganjil di 10 ramadhan terakhir.

Maka anjuran untuk meningkatkan ibadah ada pada malam-malam tersebut.

Sementara kita semua tahu bagaimana kondisi masyarakat pada jaman dahulu, selain infrastruktur, akses internet dan air PDAM, salah satu yang paling sulit adalah listrik.

Maka lampu minyak yang katanya sebelum menggunakan minyak tanah dan botol hasil inovasi dari lampu sebelumnya yang menggunakan buah pepaya atau kelapa yang dibelah dua, diisi minyak kelapa dan sumbu kapas.

Lampu ini disebut padamala.

Padamala Lampu Tradisional Gorontalo
Padamala Lampu Tradisional Gorontalo (Foto:Kompas/Royid Azhar)

Selain itu, ada versi yang mengatakan bahwa sebelum menggunakan lampu botol masyarakat Gorontalo menggunakan getah pohon damar.

Masyarakat Gorontalo menyebutkan tohe tutu atau lampu asli alias sebenar benarnya lampu.

Namun sekarang tohetutu hanya menjadi simbolis saja ketika hari pertama menyalakan lampu.

2. Penerang Jalan Ketika Membayar Zakat Fitrah

Tumbilotohe memiliki kaitan erat dengan tradisi mo luhuta pitara atau membayar zakat.

Salah satu tujuan dinyalakan lampu pada akhir Ramadhan adalah untuk menerangi aktifitas pembayaran zakat fitrah.

Bahkan jumlah lampu botol yang dipasang di depan rumah menandakan berapa orang wajib zakat di rumah tersebut.

Hal ini sangat memudahkan amilin atau panitia pengumpul zakat untuk menghitung jumlah wajib zakat di setiap rumah.

3. Pengingat Malam Lailatul Qadar

Salah hal yang menjadi fokus umat islam di Gorontalo pada saat akhir Ramadhan adalah meraih lailatul qadar.

Mengencangkan ikat pinggang, mengurangi tidur, menghkhatamkan Al-Quran dan berbagai amaliyah Ramadhan lainnya.

Festival Tumbilotohe di Gorontalo

Jaman mulai berubah dan banyak hal yang mulai tergerus olehnya.

Salah satu upaya pemerintah untuk mempertahankan budaya dan tradisi tumbilotohe adalah dengan membuat beberapa program.

Misalnya himbauan kepada masyakarat untuk membuat Alikusu dan tonggolo’opo yang disertai dengan petunjuk teknis yang jelas pada setiap rumah tangga.

Alikusu Tumbilo Tohe Gorontalo
Alikusu Tumbilo Tohe Gorontalo (Foto:Wikipedia)

Selain itu penyelenggaraan Festival Tumbilotohe juga sering dilakukan sebagai upaya mempertahankan dan memperkenalkan tradisi ke generasi baru Gorontalo.

Hal ini tentu memicu banyak titik tempat diadakannya Tumbilotohe ini, bahkan setiap warga rela menyumbangkan materi dan tenaga agar kampung mereka menjadi yang paling unik dan ramai.

Lampu Botol Versus Lampu Listrik

Seperti sepinya pasar senggol di tahun pertama pandemi, tumbilotohe pun juga mengalami hal yang sama.

Tahun kedua pagebluk mulai masuk pada tahap recovery dan tahun ketiga ini 2022 sepertinya kembali normal.

Namun bukan itu yang menjadi kekhawatiran banyak orang. Lampu botol atau tohe butulu sepertinya sudah lebih sedikit dibandingkan dengan lampu listrik.

Orisinalitas Tumbilotohe mulai terpangkas.

Kelap – kelip lampu tidak lagi menyala dari tradisi leluhur tetapan hasil kolaborasi dengan modernisasi jaman.

Tentu kita tidak bisa menyalahkan siapapun. Banyak pihak harus berperan untuk mengembalikan Orisinalitas Tumbilotohe.

Banyak faktor yang membuat hal ini terus berlangsung setiap tahunnya.

Menurut kamu ?

You May Also Like

About the Author: Gorontalo Family

Leave a Reply

Your email address will not be published.